Inginkan Privasi, tetapi Tidak Memproteksi Diri

pcmag

Sebuah penelitian baru terhadap masalah privasi di 15 negara dengan 15 ribu responden  mengungkapkan fakta bahwa mayoritas pengguna internet memiliki privasi yang lebih rendah dibandingkan  setahun yang lalu dan sebagian besar menyatakan privasi mereka akan menjadi lebih sulit untuk dipertahankan di masa depan.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsumen sangat menginginkan manfaat yang dibawa oleh teknologi, tetapi hanya 45% dari pengguna yang bersedia untuk mempertukarkan privasi untuk menikmati manfaat yang dibawa teknologi tersebut.

Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa sikap terhadap privasi dan kemauan untuk mempertukarkannya untuk suatu fungsi tertentu memiliki perbedaan demografis. Penduduk India, Timur Tengah dan China/Hong Kong paling mungkin untuk menukar data pribadi untuk peningkatan layanan. Sebaliknya, penduduk di Inggris, Belanda, Kanada dan terutama Jerman merupakan penduduk yang sangat menginginkan privasi dan tidak mau mempertukarkannya untuk suatu fungsi tertentu.

Dari penelitian juga diketahui, meskipun terdapat aksi mata-mata pemerintah yang dibocorkan oleh Edward Snowden, responden survei jauh lebih bersedia untuk berurusan dengan pemerintah daripada situs media sosial. Ini artinya mereka lebih tidak mempercayai media sosial dibandingkan pemerintah, meskipun pemerintah telah melakukan aksi mata-mata.

Dari survei diketahui bahwa 50% responden bersedia memberikan privasi kepada lembaga-lembaga pemerintah, 47% mengatakan ya untuk dokter, asuransi kesehatan dan lembaga medis lainnya, 38% akan memberikan sedikit privasi untuk bank dan lembaga keuangan lainnya, 33% bersedia untuk mempercayai pengusaha dan sistem mereka, 29% siap untuk percaya mengenai privasi mereka di toko online serta 27% bersedia mempertukarkan privasi untuk media sosial, email atau SMS.

Pengguna tidak hanya bersedia untuk mempertukarkan data pribadi untuk alasan fungsi di situs media sosial, tetapi tampaknya mereka juga sangat prihatin dengan kemampuan situs media sosial untuk melindungi data mereka.

Hanya 51% pengguna percaya bahwa situs media sosial memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk melindungi data pribadi dan 61% pengguna memiliki keraguan terhadap etika situs media sosial.

Meskipun pengguna khawatir dengan privasi mereka, tampaknya banyak yang tidak mau mengambil tindakan dasar untuk melindungi diri mereka sendiri. Hal ini dibuktikan oleh hasil survei yang menyebutkan 62% responden tidak mengubah password mereka secara teratur, 39% tidak menggunakan proteksi password pada perangkat mobile mereka, serta 4 dari 10 responden tidak menyesuaikan pengaturan privasi di situs media sosial.

Sumber: Sophos

Sumber Gambar: psmag.com

 


Facebook Comment:

theme by Mr Wordpress Themes