Hidup dan Berkiprah Sebagai Penulis (Bagian 1)

Penulis: Onno W. Purbo

[Internet Sehat] Kalau dirata-rata sebagian besar teman-teman seangkatan saya di Teknik Elektro ITB yang jumlahnya sekitar 120 orang pada saat lulus 90+ persen mencari pekerjaan sebagai pegawai perusahaan / swasta. Kebanyakan memang di Telkom & Indosat. Hanya segelintir, tidak sampai 10 orang, yang menjadi dosen.

Dua puluh lima tahun kemudian, mereka yang terbaik biasanya mencapai jabatan tertinggi di perusahaan tersebut seperti president direktur / vice president. Mereka yang di perguruan tinggi mungkin mencapai gelar Professor. Memang sebagian ada yang tidak mencapai jabatan tersebut, sebagian bahkan tidak bekerja di bidangnya.

Kebetulan saya sendiri yang mungkin mempunyai karir yang jauh berbeda dengan kebanyakan teman-teman seangkatan. Dari teman-teman seangkatan, saya barangkali yang pertama menjadi seorang pensiunan (tepatnya pensiunan dosen ITB), pada usia 35 tahun, dan bekerja dirumah saja sebagai penulis artikel / buku. Tidak bekerja dimana-mana, tidak menerima pekerjaan sebagai konsultan. Tapi fokus hanya menulis artikel & buku khususnya bidang teknologi informasi. Walau belakangan ini lebih banyak fokus hanya menulis di web, e-book & wiki saja yang di lepaskan gratis ke masyarakat.

Dalam tulisan ini akan di coba dibahas berbagai keuntungan dan tip untuk menjadi seorang penulis.

Keuntungan Seorang Penulis

Berbeda dengan seorang profesional yang bekerja di perusahaan, terutama di perusahaan besar. Seorang penulis biasanya:

  • Bisa bebas bekerja di mana saja, di rumah, di cafe, di taman, di restoran, di pantai. Bahkan pada saat tulisan ini ditulis, saya sedang di sebuah rumah kecil di kawasan Darmaga Bogor sambil menikmati udara dan alam yang sejuk.
  • Penulis bisa juga menjadi side job / pekerjaan sampingan, tanpa perlu pemberi kerja yang utama khawatir. Malah bukan mustahil menjadikan karir Anda di pekerjaan utama naik karena keahlian menulis tersebut.
  • Penulis juga tidak memiliki waktu pensiun :)
  • Modal usaha seorang penulis sangat kecil sekali dibandingkan usaha lain. Biasanya kalau mau agak enak kita membutuhkan sebuah laptop, USB harddisk, modem 3G. Rasanya itu yang minimal sekali kita butuhkan. Investasi sekitar Rp. 4-5 juta sudah menutupi kebutuhan yang ada. Tentunya bagi pemula dapat saja menggunakan fasilitas pinjaman seperti di warnet dan lain-lain.
  • Biaya operasional seorang penulis juga relatif murah sekali. Yang langsung berkaitan adalah biaya akses Internet unlimited, biasanya sekitar Rp. 100-200.000 / bulan unlimited.
  • Penghasilan dari penulis pemula lumayanlah sebagai penghasilan sampingan. Bayangkan kalau satu artikel dikoran / majalah dihargai Rp. 150-250.000,- / artikel. Padahal waktu yang dibutuhkan hanya sekitar 2 jam-an / artikel.
  • Bagi mereka yang sudah mencapai tahapan yang lebih tinggi lagi dengan menulis buku. Biasanya penghasilan dari sebuah buku sekitar Rp. 5-7 juta / buku.
  • Penulis yang sudah sering sekali menulis, bukan mustahil akan sering di undang memberikan ceramah / seminar / workshop untuk memperoleh keterangan lebih lanjut tentang apa yang ditulisnya. Honor memberikan ceramah / seminar / workshop ini lumayan lah.
  • Penulis seringkali disetarakan dengan seorang ahli / pakar, apalagi jika telah menelurkan banyak sekali buku. Biasanya, semakin banyak seseorang menulis, maka semakin tinggi nilai intelektual seseorang tersebut di mata pembacanya. Tentunya semakin tinggi posisi kita biasanya badai akan semakin besar, hidup akan lebih mudah jika kita dapat membuka mata dan kuping lebar-lebar untuk memperoleh masukan tentang tulisan / ilmu yang kita tulis.

Salah satu kesulitan utama barangkali dari status penulis adalah kurang keren / kurang “cool” sering dilihat sebagai sebuah pekerjaan pengangguran karena sering terlihat di rumah saja. Tidak pernah pergi ke kantor. Tidak punya gelar / jabatan yang keren. Agak sulit untuk meyakinkan orang tua, atau sebagian besar calon mertua, bahwa pekerjaan penulis ini cukup menjanjikan penghasilan untuk keluarga.

Penulis mungkin akan sangat berbeda dengan pekerjaan yang umum. Penulis hampir tidak pernah mengerjakan pekerjaan administratif, klerikal atau event organizer. Biasanya pekerjaan administratif perlu dibantu / dikerjakan oleh orang lain.

Pertanyaan yang paling konyol yang sering saya terima di berbagai kesempatan / pertemuan dengan orang adalah “Anda dari mana?” (maksudnya kantor / perusahaan mana?). Penanya akan langsung tertegun kalau saya jawab “Saya dari rumah”. Padahal memang demikian adanya.

Membaca Menjadi Fondasi Menulis

Menjadi seorang penulis tidak serta merta dapat dilakukan dengan mudah. Salah satu kecakapan utama yang harus dibina sejak dini adalah kebiasaan membaca. Semakin banyak kita membaca dan semakin fokus bahan yang dibaca maka akan semakin luas pengetahuan kita khususnya pada bidang yang kita fokuskan. Keluasan pengetahuan ini akan sangat memudahkan kita dapat menulis di kemudian hari.

Tulisan yang dibaca tidak harus berbentuk buku yang berbentuk formal. Kita pada hari ini sangat beruntung dengan adanya Internet. Kita dapat dengan mudah memperoleh berbagai sumber bacaan yang di tulis di berbagai web.

Saat ini, bahan bacaan yang bukan bahasa Indonesia di Internet bukan masalah yang besar. Dengan adanya Google Translate (http://translate.google.com) kita dengan mudah menerjemahkan tulisan dalam berbagai bahasa ke dalam bahasa Indonesia. Oleh karenanya, akses kita pada berbagai sumber pengetahuan menjadi sangat terbuka sekali pada hari ini.

Kedalaman pengetahuan seseorang akan sangat tercermin dari kedalaman & sudut pandang tulisannya. Akan sangat menarik membaca tulisan seseorang yang bisa melihat sisi sisi yang biasanya tidak terpikirkan oleh kebanyakan pembacanya. Disini sebetulnya selain kedalaman pengetahuan, akan lebih ditolong oleh cara berpikir alternatif yang tidak standar mengikuti pakem / alur yang biasa diadopsi oleh kebanyakan orang.


Fokus pada Hal Tertentu

Fokus pada satu hal tertentu saja barangkali akan sangat sulit dilakukan belakangan ini. Dengan banyaknya hal yang menarik di sekeliling kita, akan sulit menentukan mana hal yang ingin kita fokuskan dan dalami secara serius. Kesalahan paling fatal yang sering dilakukan adalah, sering kali kita ingin mendalami / membaca semua hal sekaligus pada saat yang sama. Ini akan menyebabkan kita kesulitan untuk memdalami secara baik semua topik.

Maklum isi kepala / volume otak kita sebetulnya sangat terbatas. Akan lebih mudah bagi kita juga dapat memfokuskan diri pada satu hal saja. Mendalami satu hal akan jauh lebih mudah daripada mendalami banyak hal sekaligus. Jika kita sudah cukup dalam di satu hal, tidak ada masalah jika kita ingin mendalami yang lain. Tentunya akan lebih baik jika yang kita pelajari selanjutnya masih berkaitan dengan yang kita pelajari sebelumnya; hal ini akan memperkuat keilmuan kita.

Biasanya, akan lebih mudah memfokuskan diri jika kita dapat mempelajari hal-hal yang kita suka. Sayangnya, sering kali kita lebih suka mempelajari sesuatu karena menurut kita mempunyai kemungkinan untuk bekerja / memperoleh rejeki. Biasanya kita akan kerepotan di kemudian hari jika kita memaksakan diri untuk mempelajari hal yang kita tidak suka, karena hanya semata untuk mencari sesuap nasi. Terus terang, beberapa teman penulis di tidak berhasil mencapai puncak karir-nya karena memang tidak menyukai hal yang dia pelajari di masa mudanya. [Internet Sehat]

…[Bersambung]…

[dew / tagtips]

Tags:

Facebook Comment:

theme by Mr Wordpress Themes