Kolom: Censorship is Advertising by The Government

Walaupun gerakan Internet Sehat (www.internetsehat.org) didukung pula oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), ternyata tidak semua hal memang harus menjadi kesepakatan bersama. Setidaknya, saya sangat tidak sepakat dengan pernyataan Ketua Umum APJII yang mengatakan bahwa, “kejadian penyebaran video porno beberapa waktu lalu merupakan dampak lambatnya penyaringan konten di Internet,” (detikINET: Blokir Konten, APJII Tunggu Laporan Masyarakat).

Penyebaran konten negatif di Internet, termasuk video porno mirip siapapun, bukanlah merupakan dampak dari ketiadaan ataupun kelambatan filterisasi, penyensoran ataupun pemblokiran di Internet. Internet hanyalah sebagai sebuah medium, yang memungkinkan siapapun untuk menjadi prosumer, produsen sekaligus konsumer informasi dan mengolaborasikannya. Tingginya intensitas penawaran suatu informasi di Internet, seperti kata pepatah, tak mungkin ada asap tanpa api. Terlebih dahulu, tentu telah tercipta suatu kebutuhan akan informasi tersebut. Bagaimanapun asal mulanya tercipta kebutuhan (mencari video porno tersebut), pastinya melakukan filterisasi di Internet bak menggantang asap, meninggalkan jelaga di penyaringan, tetapi asapnya tetap mengudara.

Tulisan ini tidak dalam rangka mendukung pornografi dalam bentuk apapun. Tetapi akan menjadi salah kaprah ketika masalah ketersediaan dan penyebaran konten negatif di Internet lalu disikapi dengan pendekatan filterisasi. Filterisasi bukanlah panasea super manjur untuk memerangi pornografi di Internet. Filterisasi hanyalah parasetamol belaka, sekedar pereda gejala (panas) saja, tetapi tidak untuk menyembuhkan penyakit sesungguhnya.

Imunisasi

Dalam konteks maraknya konten negatif film porno mirip artis, apa itu “penyakit” sesungguhnya? Ya jelas, “penyakit”-nya adalah perilaku (sebagian) masyarakat Indonesia (khususnya pengguna Internetnya) yang menggemari hal yang justru ditabukan, mengorek privasi kehidupan orang lain dan meleburnya jati diri dalam euphoria kerumunan!

Kita tahu bahwa kuman ataupun virus penyakit selalu ada di sekitar kita, bahkan kerap menempel di kulit kita. Yang kemudian membuat diri menjadi lebih imun tak menjadi penyakitan adalah daya tahan tubuh. Lalu mengapa tak kita buat imun saja diri kita atau generasi muda kita dengan berbagai konten negatif yang merupakan “penyakit” di Internet?

Daripada lagi dan lagi melakukan tindakan reaktif – kuratif yang berbiaya mahal dan cenderung tidak efektif, lebih baik kita melakukan tindakan preventif. Sejak dini anak-anak harus diberi “imunisasi” tentang Internet. Dengan demikian mereka akan bisa membangun antibody (daya tahan tubuh)-nya sendiri untuk melawan hal-hal yang bisa merugikan dirinya. Selain masalah agama dan budi pekerti, perlu juga disampaikan kepada mereka bahwa Internet adalah hal yang mengandung hal positif dan negatif. Berikan cara untuk melakukan eksplorasi hal positif dan menghindari hal negatifnya dan jangan ada yang ditutup-tutupi. Karena informasi bak air mengalir dari dataran tinggi ke tempat yang paling rendah, selalu ada jalan bagi informasi apapun yang ada di Internet untuk bisa sampai ke tangan mereka, cepat ataupun lambat.

Ampas

Saya sering menyampaikan bahwa korban dari segala hiruk-pikuk permesuman belakangan ini, adalah bukan si pelaku ataupun yang mirip pelaku. Korbannya adalah anak, keponakan atau murid kita yang dengan kepolosannya ketika mencari informasi di Internet kemudian terpapar hal-hal yang tak dicarinya, tak dibutuhkannya dan tak layak diaksesnya.

Dan yang kemudian meninggalkan ampas informasi di Internet bagi generasi muda kita, ya perilaku kita semua yang dengan sadar maupun tidak, secara gegap gempita dan sorak-sorai berbagi informasi esek-esek tersebut via twitter, blog, facebook dan berbagai layanan online yang bersifat “once posted online, you can never take it back!”

Kita semua terlibat dalam mempertebal ampas di dasar gelas Internet kita. Untuk di Internet, ampas yang ditelan pahit dan tidak bermanfaat tersebut, tak mungkin 100% difilter keberadaannya. Cara yang paling mudah untuk “menetralkan” ampas tadi, adalah dengan menggelontorkan sebanyak-banyaknya konten lokal positif di tanah air. Ibarat ampas kopi di dasar gelas, semakin banyak air putih yang kita gelontorkan ke dalam gelas tersebut, maka keberadaan ampas tersebut akan semakin tidak terlihat, dan dampaknya akan makin tidak terasa.

Internet Sehat

Maka bukanlah suatu yang mengada-ada jika gerakan Internet Sehat yang diinisiasi serta dijalankan oleh ICT Watch sejak 2002 silam, mengambil 2 (dua) hal dari sudut pandang di atas untuk pengatasi maraknya konten negatif di Internet. Pertama, dengan vaksinasi (peningkatan daya tahan tubuh) dan kedua, dengan netralisasi ampasnya. Seluruh materi yang terkait dengan kiat bagaimana orangtua dan guru dapat membantu anak atau muridnya dalam menggunakan Internet yang aman, nyaman dan bijak, telah dirangkum dalam situs Internet Sehat. Bahkan buku panduannya dalam versi digital dapat di-download secara bebas dan gratis.

Adapun untuk menetralisir ampas yang akan abadi di Internet, berbagai upaya terus dikembangkan. Misalnya dengan menginisiasi kompetisi Internet Sehat Blog Award, menggalang komunitas Internet Sehat di Facebook hingga membuat kompetisi Twitter berhadiah iPad. Harapannya, ketika semua orang telah melewati masa euphoria memposting (di blog, facebook, twitter) hal-hal yang cuma menjadi ampas di Internet, maka kini saatnya kita secara bersama-sama “bertanggungjawab” menggelontorkan postingan positif demi masa depan kita, masa depan generasi kita, masa depan Internet kita. Informasi program-program di atas dapat diakses di http://www.internetsehat.org

Iklan Pemerintah

Oh ya, terkait dengan filterisasi tadi. Saya percaya dengan ujaran, “censorship is advertising paid by the government”. Konten apapun yang kemudian dinyatakan dilarang pemerintah untuk diakses, dimiliki, dibaca, atau ditonton oleh masyarakat, justru itulah saat ketika konten tersebut kemudian terpublikasi sangat luas dan diburu besar-besaran. Anda coba ingat saja, ludesnya penjualan buku, mengularnya antrian penonton film ataupun tingginya trafik pencarian konten Internet, yang notabene adalah terjadi sesaat setelah konten tersebut dinyatakan “haram” tersaji di tanah air.

Jadi pilihan kembali kembali kepada Anda. Ingin dengan pendekatan vaksinasi + netralisasi, ataukah dengan cara filterisasi / penyensoran. Kalaupun dengan cara penyensoran, maka pastikan bahwa yang Anda lakukan adalah self-censorship di level diri sendiri, atau paling tinggi pada level keluarga saja. Karena di level tersebutlah penyensoran dapat dipantau keampuhannya. Selebihnya, percayalah tidak ada teknologi yang dapat menjamin 100% akurat dan aman untuk menyensor. Jangan terjebak dengan cara “pengobatan” yang terkesan cespleng (ampuh), tetapi sebenarnya sekedar obat-obatan ala kaki lima.

*) Penulis adalah aktifis Internet Sehat, dapat dihubungi melalui email dbu[at]donnybu.com. Judul tulisan ini terinspirasi dari ujaran yang disampaikan oleh Direktur Film Italia, Frederico Fellini. Tulisan ini pertama kali dimuat di detikINET, Kamis (17/06/2010).

Tags:

Facebook Comment:

theme by Mr Wordpress Themes